Seleksi kelas Imperium Verta, tingkat tertinggi dari seluruh kategori, diumumkan dimulai tepat satu jam setelah pendaftaran ditutup. Ratusan peserta berkumpul di pelataran utama arena, sebuah struktur kolosal berbentuk spiral logam yang menjulang ke langit, seakan mencakar dimensi itu sendiri. Di bawahnya, lorong-lorong melengkung dengan cahaya redup biru menghantarkan peserta ke ruang seleksi yang tersembunyi jauh di dalam kedalaman fasilitas.

Dari ribuan peserta turnamen, tidak sampai seratus orang berani memilih Imperium Verta. Sebuah angka yang tak mencerminkan keberanian, tapi kesadaran akan batas kekuatan sendiri. Yang memilih kelas ini… hampir bukan manusia lagi.

Para peserta dibawa ke dalam ruang seleksi utama—sebuah kubah raksasa yang bersinar dengan rona biru kehijauan. Dindingnya tersusun dari panel kristal yang terus berdenyut seperti organ hidup, dipadu struktur logam halus seperti anyaman saraf buatan. Di tengahnya, alat-alat uji berteknologi tinggi berbaris seperti pasukan yang bersiap perang: pengukur tekanan gravitasi, tabung refleks tempur, mesin serap energi, dan simulator suhu ekstrem.

Petugas berdiri tegak di atas podium. Suaranya menggema dalam kubah seperti palu penghakiman.

"Ujian dimulai sekarang. Dua tahap awal akan menyaring kalian yang tak layak sebelum memasuki simulasi pertempuran. Hanya lima peserta teratas yang akan dinyatakan lulus dari kelas Imperium."

Dari sisi kanan Leena, terdengar tawa kasar.

"Heh, kau... cewek kecil! Salah ruangan, barangkali? Atau... mau jadi penghibur setelah pertandingan selesai?"

Seorang pria bertubuh raksasa, berkulit merah dengan pelindung bahu penuh paku logam, menunjuk Leena sambil terkekeh bersama dua rekannya. Otot-ototnya seakan menggembung hanya karena tertawa.

Leena menoleh sedikit, alis kirinya terangkat namun dia memilih diam dan memeluk pedangnya di depan dada.

"Pedangmu sangat cocok untukmu, kenapa tidak bermain pentas saja dan mendapatkan uang dari sana. Dengan kecantikanmu, pasti banyak pria-pria yang mau menemanimu." kata rekannya yang berdiri disebelah pria tersebut.

Melihat wanita tersebut diam, pria tersebut semakin tertawa karena mengira wanita tersebut takut. "Bagaimana jika kamu memijatku dan ikut bersamaku. Aku akan memberimu banyak hadiah setelah aku menang nanti."

"Katakan itu lagi nanti setelah kamu berhasil selamat dari pedangku." Leena membalas dengan nada dingin.

Tawa mereka langsung terpotong. Pria itu mencibir dan meludah ke lantai, tapi tak membalas. Leena maju ke barisan depan, langkahnya ringan namun mantap, menunggu panggilan untuk tes pertama, ruangan gravitasi kristal.

Satu per satu peserta masuk ke dalam kubus transparan. Angka gravitasi meningkat perlahan. Lima kali. Delapan. Sepuluh. Peserta mulai berkeringat, tubuh mereka gemetar. Beberapa pingsan di level tiga belas, yang lainnya roboh saat mencapai enam belas atau tujuh belas.

Leena melangkah masuk. Kubus tertutup, dan suara alat mulai berdengung.

Lima kali.

Sepuluh kali.

Lima belas kali.

Tubuhnya tidak bergeming.

Dua puluh kali.

Dua puluh lima kali.

Para peserta yang tadinya mencemooh mulai menatap penuh ketegangan. Leena tak menunjukkan ekspresi. Tidak ada tekanan di wajahnya, bahkan napasnya tetap teratur.

Tiga puluh kali.

Lantai kubus bergetar ringan. Audra halus seperti embun dingin mulai menyelimuti Leena.

Tiga puluh lima kali.

Panel samping retak. Alarm berbunyi pelan. Petugas buru-buru menghentikan proses.

"Cukup! Keluarkan dia! Struktur tak bisa menahan lebih dari itu!"

Leena keluar seperti seseorang yang baru selesai bermeditasi, bukan seperti peserta yang baru saja melewati ujian berat. Ia menoleh ke pria raksasa tadi, menyipitkan mata sejenak. Kali ini, tak satu pun berani bersuara.

"Alat tadi sangat luar biasa. Jika bisa berlatih di bawah tekanan seperti itu, aku bisa lebih cepat memperkuat pondasiku," bisik Leena pelan.

Saat di kota Zhurong, ia pernah meminta pil dari Lynx untuk membantu menstabilkan kekuatannya. Namun Lynx jusru ingin memeriksa tubuhnya dan membuat Leena merasa terkejut. Lynx berkata pondasi kekuatan yang dimiliki Leena sangat lemah. Peningkatan energi spiritual dalam tubuhnya memang besar, tapi terlalu drastis, dan tak didukung latihan yang seimbang. Energinya tidak stabil. Itu sebabnya Lynx hanya memberikan pil tersebut ke rekan-rekan yang lain, sedangkan Leena belum diberikan.

Pondasi kekuatan Leena lemah, diakibatkan oleh karena para guru dan tetua menganggap Leena adalah Ling Mei. Mereka yakin pondasinya sudah kokoh sejak kecil karena latihan keras yang dilakukannya, tinggal menstabilkan kekuatan sebelum menapaki ranah grandmaster. Leena pun belum pernah memperlihatkan kemampuannya secara serius di hadapan para tetua, sehingga mereka tak menyadari ada yang keliru pada dasar kekuatannya.

Lynx bisa melihatnya dengan jelas karena pernah menyaksikan langsung pertarungan Leena saat di dunia kecil kota Huoling, melawan para binatang iblis. Saat itu, Lynx melihat dengan pasti arah aliran kekuatannya yang tidak seimbang. Ditambah dengan pengetahuannya tentang teknik dan struktur tubuh dari leluhur Xiao Tang, Lynx bisa memahami dengan tepat kelemahan yang tersembunyi dalam tubuh Leena.

Hanya ada dua jalan. Menghancurkan pondasi dan membangunnya ulang dari awal, atau memperkuatnya perlahan. Leena memilih jalan kedua. Ia tahu prosesnya akan lebih lambat, tetapi ia tidak ingin kehilangan semua yang sudah ia capai.

Itulah sebabnya, saat rekan-rekannya seperti Kael, Narendra, Lala, Jelita, dan Karim mengalami peningkatan pesat, Leena tetap berada di tempat yang sama. Tapi ia tidak berhenti. Ia memperkuat sedikit demi sedikit, seperti membangun rumah dari pondasi yang retak, satu batu per satu.

Namun bukan hanya itu persoalannya.

Leena menyimpan sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh Lynx. Sebuah roh spiritual, yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami, bersemayam di dalam jiwanya. Roh itu terluka parah dan sedang diburu oleh sekelompok makhluk dari ranah Dewa dan menemukan Ling Mei dari portal dimensi yang terkena amukan badai ruang waktu.

Ia pernah muncul sekali, saat Leena baru sadar dari luka parah yang dideritanya setelah keluar dari portal dimensi, ketika ingatannya hilang. Dalam pertemuan singkat itu, roh tersebut memperkenalkan diri secara samar dan menyebut bahwa dunia ini bisa dihancurkan dengan mudah, hanya dengan satu jentikan jari oleh seseorang dari ranah dewa.

Setelah itu, ia segera masuk ke dalam meditasi mendalam untuk memulihkan diri. Sebelum lenyap, roh tersebut meminta Leena untuk menyembunyikan keberadaannya dari siapa pun, bahkan dari orang-orang yang ia percayai. Sebagai gantinya, roh itu memberikan sedikit kekuatan agar Leena dapat menjaga dirinya sendiri.

Kekuatan itulah yang menjadi alasan mengapa ranah kultivasi Leena meningkat begitu cepat. Namun pada saat yang sama, kekuatan itu tidak datang dari fondasi yang kokoh. Jika ia memilih menghancurkan kultivasinya untuk membangun pondasi baru, proses itu akan mengganggu keberadaan roh spiritual tersebut yang tengah berada dalam kondisi rapuh.

Leena tidak berniat membohongi Lynx. Tapi jika ranah di atas immortal benar-benar ada, dan mereka adalah para pencipta artefak-artefak kuno dunia kultivasi, maka keterlibatan Lynx bisa membahayakan dirinya.

Selain itu, ayahnya, atau lebih tepatnya, ayah Ling Mei, wakil ketua sekte Ling Juan, pernah menyebutkan bahwa para leluhur menduga batu meteor yang jatuh ke dunia mereka bukanlah batu meteor biasa, bukan benda langit biasa. Sebuah ciptaan, bukan kebetulan. Dan mereka memiliki kesimpulan mengenai adanya dunia lain yang tidak bisa di tembus dengan cara biasa.

Leena tahu, Lynx sangat kuat. Tetapi jika batu meteor adalah sebuah benda yang dibuat oleh para dewa, maka kemungkinan besar kekuatan mereka jauh lebih besar dari Lynx.

Karena itu, Leena menyembunyikan rahasianya bukan demi dirinya sendiri. Ia melindungi Lynx juga.

Leena menghembuskan napas dan berpikir kelak akan meminta Lynx mengajaknya ke dunia ini lagi untuk berlatih. Walaupun di dunia ini tidak ada qi spiritual yang dapat diserapnya untuk memulihkan kekuatan spiritualnya, tetapi barang-barang berteknologi tinggi di tempat ini masih bisa dia manfaatkan untuk berlatih meningkatkan kekuatannya. 

"Apa yang dilakukan Lynx saat ini, apakah dia berhasil menemukan posisi Isha? Kuharap Isha ditemukan dan mesin dimensi juga selesai diperbaiki sehingga bisa melanjutkan pencarian menemukan Lala. Aku sangat mengkhawatirnya" Batin Leena dengan perasaan cemas.

Leena kembali fokus kepada tes berikutnya.

